TERASINDO.ID (Boalemo) – Ditengah kondisi pademi saat ini yang berimbas pada menurunnya ekonomi masyarakat, Perusahaan Daerah Air minum (PDAM) Trirta Boalemo, justru mengambil langkah untuk menaikan tarif air, dari yang semula hanya Rp.2.500 kini menjadi Rp.3.500.
Hal inipun mendapat penolakan dari masyarakat. Senin (22/2) sekelompok masyarakat yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Boalemo Bersatu (GRABBES) melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Boalemo, untuk menuntut pembatalan kenaikan tarif tersebut yang ironisnya belum disosialisasikan pada masyarakat.
“Kita menuntut agar kenaikan tarif untuk dibatalkan oleh pihak PDAM,” tegas Kevin Sairullah.
Menurutnya masyarakat Boalemo terutama yang bermukim di kawasan pesisir Desa Bajo, masih banyak yang berpendapatan rendah, sehingga dirinya menilai kenaikan tarif yang ditempuh pihak PDAM merupakan langkah yang tidak tepat, sebab tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
“Sangat disayangkan, banyak masyarakat khususnya desa bajo yang sangat miskin itu dikenakan tarif oleh pihak PDAM, harusnya ini menjadi pertimbangan dan toleransi dari pihak PDAM untuk melihat ekonomi masyarakat saat ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekertaris Daerah (Sekda) Boalemo Sherman Moridu yang menerima para pengunjuk rasa mengatakan nahwa pihaknya akan mengkaji kembali kenaikan tarif tersebut hingga menghasilkan keputusan yang disepakati bersama.
“Andaikan seluruh masyarakat belum menyetujui, maka tentunya kita masih akan sepakat bersama meninjau kembali kenaikan tariff PDAM,” ujarnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga berencana akan memanggil pihak PDAM untuk menanyakan alasan dari salah satu BUMD tersebut hingga menempuh kebijakan menaikan tarif dasar air.
“Kami juga akan mengkaji bagaimana warga masyarakat bajo yang memang agak kesulitan untuk kebutuhan air bersih. Kami juga akan memanggil pihak PDAM untuk menyampaikan alasan-alasan kenaikan tarif PDAM,” jelasnya.(TID01)
![]()
