Kasus Diare Tertinggi pada Minggu ke-28, Puskesmas Dulupi Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan


TERASINDO.ID (Dulupi) – UPTD Puskesmas Dulupi merilis Informasi Grafis dan Aksi Penyakit Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk Minggu ke-28 periode 12–18 Juli 2026. Laporan ini menjadi bagian dari sistem surveilans aktif yang digunakan untuk memantau perkembangan penyakit menular sekaligus memastikan setiap potensi peningkatan kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat.

Berdasarkan laporan tersebut, kinerja pelaporan surveilans kembali menunjukkan hasil yang sangat baik dengan tingkat kelengkapan dan ketepatan pelaporan mencapai 100 persen. Seluruh 5 alert malaria yang terdeteksi berhasil direspons dalam waktu kurang dari 24 jam, sehingga proses investigasi dan penanganan dapat segera dilakukan.

Selama Minggu ke-28, Puskesmas Dulupi mencatat 22 kasus penyakit yang terdiri atas 9 kasus diare akut, 6 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), 5 kasus malaria, 1 kasus pneumonia, dan 1 kasus suspek tifoid. Pada periode yang sama, jumlah kunjungan pasien ke UPTD Puskesmas Dulupi mencapai 113 orang.

Sebaran kasus paling banyak ditemukan di Desa Dulupi sebanyak 18 kasus, disusul Desa Tabongo 3 kasus, dan Desa Kotaraja 1 kasus. Berdasarkan kelompok umur, kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia 1–10 tahun dan di atas 20 tahun, masing-masing sebanyak 10 orang, sedangkan kelompok usia 11–20 tahun tercatat 2 orang. Dari sisi jenis kelamin, penderita terdiri atas 13 laki-laki dan 9 perempuan.

Laporan SKDR juga menunjukkan bahwa diare akut menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi pada minggu ini. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar kasus dipengaruhi oleh kebersihan lingkungan, sanitasi, serta keamanan makanan dan air yang dikonsumsi masyarakat. Sementara itu, malaria masih menjadi penyakit yang memerlukan kewaspadaan tinggi mengingat penularannya masih ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Dulupi.

Kepala UPTD Puskesmas Dulupi, drg. Fatimah, mengatakan bahwa data SKDR menjadi dasar penting dalam menentukan langkah pengendalian penyakit di lapangan. Menurutnya, peningkatan kasus diare harus menjadi perhatian bersama karena sebagian besar dapat dicegah melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Diare menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan pada minggu ini. Kami mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menggunakan air bersih, serta memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan higienis. Langkah sederhana ini sangat efektif dalam mencegah terjadinya diare,” ujarnya.

Terkait masih ditemukannya kasus malaria, drg. Fatimah juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gigitan nyamuk, terutama pada malam hari. “Gunakan kelambu saat tidur, lakukan pemberantasan sarang nyamuk, dan segera datang ke puskesmas apabila mengalami demam yang tidak kunjung membaik. Penanganan yang cepat akan mempercepat kesembuhan sekaligus mencegah penularan lebih lanjut,” tambahnya.

UPTD Puskesmas Dulupi mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap diare, malaria, ISPA, pneumonia, dan suspek tifoid dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan dan air yang aman, mencegah gigitan nyamuk, serta segera memeriksakan diri ke puskesmas apabila mengalami gejala penyakit.

Cegah lebih baik daripada mengobati. Dengan peran aktif masyarakat dan penguatan surveilans yang terus dilakukan, diharapkan penyebaran penyakit menular di wilayah kerja UPTD Puskesmas Dulupi dapat terus dikendalikan.