SKDR Minggu ke-26: Puskesmas Dulupi Catat 9 Kasus Penyakit Menular, Kewaspadaan Malaria Terus Diperkuat


TERASINDO.ID (Dulupi) – UPTD Puskesmas Dulupi merilis Laporan Sistem Informasi Grafis dan Aksi Penyakit (SIGAP SKDR) atau Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Penyakit untuk Minggu ke-26, periode 28 Juni hingga 4 Juli 2026. Laporan ini menjadi bagian dari pemantauan rutin terhadap penyakit menular guna mendeteksi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) secara dini sekaligus mempercepat respons penanganan di wilayah kerja Puskesmas Dulupi.

Berdasarkan laporan tersebut, kinerja pelaporan surveilans mencapai hasil maksimal dengan tingkat kelengkapan dan ketepatan pelaporan sebesar 100 persen. Seluruh sinyal peringatan (alert) penyakit berhasil direspons dalam waktu kurang dari 24 jam, menunjukkan sistem kewaspadaan dini di Puskesmas Dulupi berjalan secara optimal.

Selama minggu ke-26, tercatat sembilan kasus penyakit yang menjadi perhatian, terdiri atas tiga kasus diare akut, dua kasus malaria, dua kasus pneumonia, satu kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), dan satu kasus suspek tifoid. Wilayah dengan jumlah kasus terbanyak berada di Desa Dulupi sebanyak empat kasus, disusul Desa Tabongo satu kasus dan Desa Kotaraja satu kasus. Sementara tiga kasus lainnya tersebar di wilayah kerja lainnya.

Laporan juga menunjukkan status kewaspadaan terhadap malaria masih terus dipertahankan mengingat masih ditemukannya dua kasus pada periode tersebut. Puskesmas Dulupi terus memperkuat surveilans, pemeriksaan laboratorium, investigasi kasus, serta edukasi kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan penyebaran penyakit.

Selain pemantauan kasus, Puskesmas Dulupi juga terus mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan penyakit. Edukasi meliputi pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah diare, menghindari gigitan nyamuk sebagai upaya pencegahan malaria, mengenali gejala pneumonia, melakukan penanganan segera apabila terjadi gigitan hewan penular rabies, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Kepala UPTD Puskesmas Dulupi, drg. Fatimah, mengatakan bahwa SKDR merupakan instrumen penting dalam mendeteksi potensi peningkatan kasus penyakit menular sejak dini sehingga langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

“Kelengkapan dan ketepatan pelaporan menjadi kunci dalam sistem kewaspadaan dini. Dengan data yang akurat dan respons yang cepat, kami dapat melakukan investigasi, pengendalian, serta edukasi kepada masyarakat sebelum kasus berkembang menjadi lebih luas,” ujar drg. Fatimah.

Ia juga mengimbau masyarakat agar berperan aktif dalam mencegah penyebaran penyakit dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit menular.

“Pencegahan merupakan tanggung jawab bersama. Kami mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghindari faktor risiko penyakit, dan tidak menunda berobat apabila mengalami keluhan. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, kita dapat menjaga situasi penyakit di wilayah kerja Puskesmas Dulupi tetap terkendali,” tambahnya.

Hingga akhir Minggu ke-26, situasi penyakit menular di wilayah kerja UPTD Puskesmas Dulupi masih dalam kondisi terkendali, namun kewaspadaan tetap terus ditingkatkan melalui penguatan surveilans aktif, respons cepat terhadap setiap kasus, serta edukasi kesehatan kepada masyarakat.