TERASINDO.ID (Nasional) – Penggunaan vaksin Coronavac atau vaksin untuk menangkal penyebaran Covid-19 di Indonesia mulai pada pertengahan Januari tahun ini, setelah mendapatkan izin dari Badan POM serta telah dinyatakan Halal oleh MUI.
Menurut penjelasan Kepala BPOM Penny K Lukito, dirinya mengungkapkan hasil analisis interim uji klinis di Bandung belum lama ini, menunjukkan efikasi Sinovac sebesar 65,3 persen. Angka ini telah memenuhi persyaratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu di atas 50 persen.
Dikutip dari Detik.com Kepala BPOM menjelaskan, bahwa Efikas adalah estimasi dari bagaimana efektivitasnya keberhasilan dari vaksin tersebut dalam melawan keganasan Covid-19.
“Efikasi adalah estimasi bagaimana nanti efektivitasnya (vaksin). Di atas 50 persen itu sudah ada jaminan, ada harapan vaksin akan menurunkan kejadian penyakit,” kata Penny Senin (11/1).
Lebih jauh Penny menjelaskan, efikasi ini adalah sebuah perhitungan yang digunakan untuk menunjukkan efektivitas. Termasuk juga dengan berapa yang terinfeksi dan sudah divaksin dan hasilnya akan dibandingkan dengan mereka yang terinfeksi.
“Nanti masuk ke dalam perhitungan terus ya pemantauan dari efikasinya. Nanti juga akan menunjukkan efektivitas vaksin tersebut pada saat sudah di populasi, jadi sesudah program vaksinasi itu dilakukan,” jelasnya.
“Itu masuk jadi pemantauan dan akan jadi perhitungan dari efikasi dalam jangka yang panjang. Karena efektivitas vaksin itu baru kita ketahui setelah ada di populasi,” lanjutnya.
Sementara itu, juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lucia Rizka Andalusia, menjelaskan angka efikasi Sinovac atau efficacy rate 65,3 persen itu didapatkan dari perhitungan uji klinis dengan menggunakan 1600 sbjek.
“Untuk penghitungan efficacy rate dari uji klinis di Bandung dengan subjek 1.600, dengan interim analisis sesuai dengan penghitungan statistik kita menargetkan 25 kasus terinfeksi. Jadi angka 65,3 persen itu dari 25 kasus terinfeksi,” ujar Rizka.(TID01)
![]()
