TERASINDO.ID (BOALEMO) – Pemerintah Kabupaten Boalemo menemukan tantangan lain dalam penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 71. Selain persoalan ekonomi, rendahnya kesadaran pendidikan dalam keluarga juga menjadi salah satu faktor yang membuat anak tidak melanjutkan sekolah.
Hal itu ditemukan Wakil Bupati Boalemo Lahmuddin Hambali saat melakukan penjangkauan calon siswa di Desa Tangga Jaya, Kecamatan Dulupi, Kamis (4/6). Dalam kunjungan tersebut, Lahmuddin mendapati seorang orang tua yang mengaku anaknya tidak lagi bersekolah karena memilih tidak melanjutkan pendidikan.
Temuan itu membuat pemerintah daerah melihat persoalan putus sekolah secara lebih luas. Lahmuddin menilai keputusan anak untuk berhenti sekolah tidak selalu lahir karena keterbatasan ekonomi. Dalam kondisi tertentu, rendahnya pendidikan orang tua juga dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam memberikan pemahaman dan motivasi kepada anak.
Karena itu, Lahmuddin meminta aparat desa tidak berhenti pada pendataan calon penerima manfaat SRT 71. Pemerintah desa harus ikut mendatangi dan mendampingi keluarga yang memiliki anak tidak bersekolah, terutama ketika orang tua membutuhkan bantuan untuk meyakinkan anak agar kembali menempuh pendidikan.
“Aparat desa harus hadir membantu masyarakat. Jangan hanya menerima ketika orang tua mengatakan anaknya tidak mau sekolah. Kita harus memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama yang harus diperjuangkan,” tegas Lahmuddin saat memberikan arahan kepada aparat desa se-Kecamatan Dulupi.
Menurutnya, tidak semua orang tua memiliki kemampuan yang sama dalam membangun kesadaran pendidikan di dalam keluarga. Sebagian orang tua mungkin menginginkan anaknya memiliki masa depan lebih baik, tetapi tidak cukup memiliki pengetahuan atau cara untuk mendorong anak kembali bersekolah.
Di sinilah, kata Lahmuddin, pemerintah desa harus mengambil peran. Pendampingan dan edukasi kepada keluarga diperlukan agar keputusan berhenti sekolah tidak menjadi akhir perjalanan pendidikan seorang anak.
Program SRT 71 dinilai menjadi salah satu kesempatan yang dapat dimanfaatkan keluarga kurang mampu untuk memberikan pendidikan yang lebih layak kepada anak. Pemerintah daerah pun terus melakukan penjangkauan langsung ke desa-desa untuk menemukan calon siswa yang memenuhi kriteria.
Lahmuddin berharap aparat desa, pendamping sosial, tokoh masyarakat, serta unsur terkait tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka diminta membangun pendekatan bersama kepada keluarga yang memiliki anak putus sekolah agar bersedia memanfaatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program Sekolah Rakyat Unggul Terintegrasi.
Penjangkauan di Desa Tangga Jaya menjadi bagian dari upaya Pemkab Boalemo memastikan program SRT 71 benar-benar menyasar anak-anak yang membutuhkan, baik karena keterbatasan ekonomi maupun persoalan kesadaran pendidikan di lingkungan keluarga.(TID01)
